Terjadinya Muara Bian | Cerita Rakyat Papua (Merauke)
Kode Iklan Atas Artikel
TERJADINYA MUARA BIAN
(Versi Marind)
Pagi hari di pinggir pantai yang indah dan cerah, angin bertiup spoi-spoi, nyiur melambai-lambai bertepatan dengan air laut sedang surut. Dipinggiran pantai yang lain terlihat seorang putri sendirian asyik mencari siput dengan tidak menghiraukan keadaan sekitarnya. Dari jauh terdengar suara hempasan sayap dari seekor burung yang sangat besar berputar-putar di angkasa. Tiba-tiba saja burung itu terbang menukik menerkam putri yang sedang mancari siput di pinggiran pantai tersebut.
Sang putri kaget dan tidak perna menduganya sama sekali karena asyik mencari siput. Dalam sekejap mata putri yang sibuk mencari siput sudah berada dalam cengkraman kaki sang burung besar itu. Sang putri berusaha berontak melepaskan diri dan berteriak minta tolong. Tetapi tak seorangpun terlihat di sekitar pantai tersebut. Burung yang sangat besar tadi terbang tinggi membawa putri kesarangnya yang terletak di atas pohon besar yang tumbuh di sekitar pantai tersebut. Burung besar meletakkan sang putri dalam sarangnya. Sang putri ketakutan tapi apa mau dikata tak seorangpun yang bisa menolongnya. Kemudian Burung itu berkata; “aku akan menjadikanmu sebagai istriku” jawab sang putri; “aku tidak mau menjadi istrimu”.
Burung besar itu kemudian merayunya: “jika engkau menikah denganku maka aku akan memberikan apa saja yang engkau mau“. Setelah berpikir-pikir kemudian Sang Putri tersebut menerimanya.setelah sekian lama tinggal di sarang burung tersebut akhirnya sang putri menjadi bosan.
Kemudian ia mempertimbangkan untuk mengutarakan maksud agar terbebas dan keluar untuk bergabung dengan orang-orang kampungnya. Namun ia takut mengutarakannya. Akhirnya ia mencari akal dan mengutarakan akalnya kepada suaminya untuk mencari rumput rawa sebagai bahan pembuatan tikar. Tanpa curiga Sang Burung pergi mencari rumput dan membawanya pulang untuk dianyamnya. Disamping menganyam ia juga membuat tangga-tangga untuk meloloskan diri. Ia membuat tangga-tangga sedikit-demi sedikit agar tidak ketahuan dan mengukurnya agar sampai di tanah. Pada saat suaminya pulang ia meminta agar mencarikan daging rusa yang gemuk.pada saat suaminya pergi mencari rusa ia meloloskan diri dari tangga-tangga tali yang dibuatnya.
Kemudian ia melarikan diri menuju desanya. Sekembalinya dari berburu sang burung tidak menemukan sang istri dalam sarangnya. Ia mencari-carinya tetapi tidak ketemu. Dengan geram dan marah lalu terbang menuju desa tempat tinggal sang putri. Sang burung terbang berputar-putar di atas desa tersebut dan mengobrak-abrik serta menghancurkannya. Tidak semua rumah yang hancur, ada satu rumah tempat tinggal nenek tua yang sakti. Mendengar ada keributan nenek tua itu keluar dan melemparkan sapu pada burung itu dan mengenai matanya. Burung itu menjadi marah dan memanggil temannya yaitu kepala arus. Kemudian mereka berdua kembali menyerang desa itu. Sang burung berkata kepada temannya: “kita hancurkan saja desa itu dengan ilmumu”. Kemudian kepala arus membuat ari naik kedarat, maka hancurlah seluruh desa itu dan semua yang yang tinggal di situ mati tidak tersisa. Dan tinggallah sebuah muara yang besar yang sekarang di kenal dengan nama Muara Sungai Bian.
Sang putri kaget dan tidak perna menduganya sama sekali karena asyik mencari siput. Dalam sekejap mata putri yang sibuk mencari siput sudah berada dalam cengkraman kaki sang burung besar itu. Sang putri berusaha berontak melepaskan diri dan berteriak minta tolong. Tetapi tak seorangpun terlihat di sekitar pantai tersebut. Burung yang sangat besar tadi terbang tinggi membawa putri kesarangnya yang terletak di atas pohon besar yang tumbuh di sekitar pantai tersebut. Burung besar meletakkan sang putri dalam sarangnya. Sang putri ketakutan tapi apa mau dikata tak seorangpun yang bisa menolongnya. Kemudian Burung itu berkata; “aku akan menjadikanmu sebagai istriku” jawab sang putri; “aku tidak mau menjadi istrimu”.
Burung besar itu kemudian merayunya: “jika engkau menikah denganku maka aku akan memberikan apa saja yang engkau mau“. Setelah berpikir-pikir kemudian Sang Putri tersebut menerimanya.setelah sekian lama tinggal di sarang burung tersebut akhirnya sang putri menjadi bosan.
Kemudian ia mempertimbangkan untuk mengutarakan maksud agar terbebas dan keluar untuk bergabung dengan orang-orang kampungnya. Namun ia takut mengutarakannya. Akhirnya ia mencari akal dan mengutarakan akalnya kepada suaminya untuk mencari rumput rawa sebagai bahan pembuatan tikar. Tanpa curiga Sang Burung pergi mencari rumput dan membawanya pulang untuk dianyamnya. Disamping menganyam ia juga membuat tangga-tangga untuk meloloskan diri. Ia membuat tangga-tangga sedikit-demi sedikit agar tidak ketahuan dan mengukurnya agar sampai di tanah. Pada saat suaminya pulang ia meminta agar mencarikan daging rusa yang gemuk.pada saat suaminya pergi mencari rusa ia meloloskan diri dari tangga-tangga tali yang dibuatnya.
Kemudian ia melarikan diri menuju desanya. Sekembalinya dari berburu sang burung tidak menemukan sang istri dalam sarangnya. Ia mencari-carinya tetapi tidak ketemu. Dengan geram dan marah lalu terbang menuju desa tempat tinggal sang putri. Sang burung terbang berputar-putar di atas desa tersebut dan mengobrak-abrik serta menghancurkannya. Tidak semua rumah yang hancur, ada satu rumah tempat tinggal nenek tua yang sakti. Mendengar ada keributan nenek tua itu keluar dan melemparkan sapu pada burung itu dan mengenai matanya. Burung itu menjadi marah dan memanggil temannya yaitu kepala arus. Kemudian mereka berdua kembali menyerang desa itu. Sang burung berkata kepada temannya: “kita hancurkan saja desa itu dengan ilmumu”. Kemudian kepala arus membuat ari naik kedarat, maka hancurlah seluruh desa itu dan semua yang yang tinggal di situ mati tidak tersisa. Dan tinggallah sebuah muara yang besar yang sekarang di kenal dengan nama Muara Sungai Bian.
Kode Iklan Bawah Artikel