IGLO Blogger Template for FB Ads to AdSense

HPK

mesothelioma survival rates,structured settlement annuity companies,mesothelioma attorneys california,structured settlements annuities,structured settlement buyer,mesothelioma suit,mesothelioma claim,small business administration sba,structured settlement purchasers,wisconsin mesothelioma attorney,houston tx auto insurance,mesotheliama,mesothelioma lawyer virginia,seattle mesothelioma lawyer,selling my structured settlement,mesothelioma attorney illinois,selling annuity,mesothelioma trial attorney,injury lawyer houston tx,baltimore mesothelioma attorneys,mesothelioma care,mesothelioma lawyer texas,structered settlement,houston motorcycle accident lawyer,p0135 honda civic 2004,structured settlement investments,mesothelioma lawyer dallas,caraccidentlawyer,structured settlemen,houston mesothelioma attorney,structured settlement sell,new york mesothelioma law firm,cash out structured settlement,mesothelioma lawyer chicago,lawsuit mesothelioma,truck accident attorney los angeles,asbestos exposure lawyers,mesothelioma cases,emergency response plan ppt,support.peachtree.com,structured settlement quote,semi truck accident lawyers,auto accident attorney Torrance,mesothelioma lawyer asbestos cancer lawsuit,mesothelioma lawyers san diego,asbestos mesothelioma lawsuit,buying structured settlements,mesothelioma attorney assistance,tennessee mesothelioma lawyer,earthlink business internet,meso lawyer,tucson car accident attorney,accident attorney orange county,mesothelioma litigation,mesothelioma settlements amounts,mesothelioma law firms,new mexico mesothelioma lawyer,accident attorneys orange county,mesothelioma lawsuit,personal injury accident lawyer,purchase structured settlements,firm law mesothelioma,car accident lawyers los angeles,mesothelioma attorneys,structured settlement company,auto accident lawyer san francisco,mesotheolima,los angeles motorcycle accident lawyer,mesothelioma attorney florida,broward county dui lawyer,state of california car insurance,selling a structured settlement,best accident attorneys,accident attorney san bernardino,mesothelioma ct,hughes net business,california motorcycle accident lawyer,mesothelioma help,washington mesothelioma attorney,best mesothelioma lawyers,diagnosed with mesothelioma,motorcycle accident attorney chicago,structured settlement need cash now,mesothelioma settlement amounts,motorcycle accident attorney sacramento,alcohol rehab center in florida,fast cash for house,car accident lawyer michigan,maritime lawyer houston,mesothelioma personal injury lawyers,personal injury attorney ocala fl,business voice mail service,california mesothelioma attorney,offshore accident lawyer,buy structured settlements,philadelphia mesothelioma lawyer,selling structured settlement,workplace accident attorney,illinois mesothelioma lawyer

Menu Navigasi

Sinako Hololik-Hololik - Cerita Rakyat Ver. Wamena Lembah

Kode Iklan Atas Artikel

SINAKO HOLOLIK-HOLOLIK
( Wamena Lembah)


Ceritera ini mengisahkan tentang sebatang pohon Sin yang di boor dan sakti menurut kepercayaan masyarakar di lembah BaIiem Kabupaten Dati II Jayawijaya. Pada jaman dahulu kala penduduk di lembah Baliem ini  mempunyai kepercayaan bahwa bumi dan langit ini sebelumnya adalah bersatu bukan terpisah seperti yang sekarang ini. 

Berkat kesaktian dari pohon Sin inimaka langit dapat ditonggak pohon itu sehingga terpisahlah bumi dan langit seperti yang sekarang ini. Dan pada waktu itu lahirlah sepasang suami istri yang dikena dengan nama Pupa dan Nalinale. Dengan kehadiranya kedua insan ini maka berkembanglah penduduk Baliem dari tahun-ketahun.

Pada suatu ketika ada seorang anak yang ingin mencoba membunuh kawan sesamanya dengan jalan menipu anak-anak itu dengan, mereka kehutan untuk mencari kayu. Sepanjang perjalanan, mereka sambil bermain-main dengan melontarkan atau menombak dengan sejenis tumbuh-tumbuhan yang biasa di buat untuk gagang anak panah oleh penduduk setempat yakni lokop  ( sebangsa bulu halus).

Setalah berhari hari mereka diperjalanan, maka tibalah mereka pada suatu kampung di mana kampung itu  hanya dihuni oleh sepasang suami istri yang bernama Pupa dan Nalinale, beserta pasukan-pasukannya pengawal keamanan kampungnya. Dalam kompleks kampung ini di bangun rumah-rumah penduduk setempat yang biasa di sebut dengan nama Honey lengkap dengan kandang babinya. 

Begitu mereka masuk dalam kompleks perkampungan ini, pimpinan rombongan segera memerintahkan kepada anak buahnya bersembunyi dalam kandang babi. Begitu anggota rombongan sudah masuk dalam kandang babi. Pimpinan rombongan ini tidak masuk bersama-sama, tetapi pura-pura ia pergi membuang kotoran di luar. Akan tetapi maksud sebenarnya bukan pergi membuang kotoran, melainkan pergi melaporkan kepada Pupa dan Nalinale, bahwa ia membawa rombongan anak-anak dan rombongan ini supaya dibunuh,dengan maksud agar Dia bersama Pupa dan Nalinale dapat berpesta dengan sepuas-puasnya di kampung itu. 

Tetapi maksud jahat dari pimpinan rombongan ini, rupanya tercium oleh salah seorang dari anggota rombongan itu yang kebetulan orangnya ber-penyakit kista.

Rahasia ini didengar dari percakapan antara pimpinan rombongannya dengan salah seorang penghuni rumah yang kebetulan rumahnya berdampingan dengan kandang babi yang mereka pakai untuk bersembunyi itu.

Dan segeralah hal ini diberitahukannya kepada kawan-kawannya yang sama-sama bersembunyi dalam kandang itu.  Katanya bahwa kita ini kena tipu oleh Pimpinan rombongan, yakni kita ini akan dimakan olehnya bersama-sama dengan Pupa dan Nalinale beserta pasukan-pasukannya.

Begitu mendengar kabar ini, kawan-kawan semua percaya bagaimana kita bisa selamat dari pembunuhan. 

Keputusan mereka bersama yang mereka ambil ialah mencuri dua ekor babi besar-besar yang ada daam kandang miliknya Pupa dan Nalinae membakar semua honey-honey yang ada dalam kompleks itu, dan segera lari meninggakan perkampungan itu. Dengan mebawa barang curiannya yakni dua ekor babi yang besar-besar. Di dalam perjalanan mereka sudah merencanakan utnuk menyembelih babi-babi yang mereka bawa lari dari kandang Pupa, dengan mebagi tugas masing-masing. Ada yang punya tugas ambil kayu api, ada yang ambil batu, ada yang membersihkan daging dan lain-lain.

Begitu meraka sampai di tepi kali Baliem, rencana itu mulai dilaksanakan sesuai dengan pembagian tugas yang masing-masing telah disepakati bersama. 

Tetapi yang berpenyakit kista-kista tidak ikut masak, tetapi secara diam-diam pergi ke hutan mencari pohon Sin yang satu itu. Kebetulan di tepi kali pohon Sin yang sakti itu. 

Ia segera diam-diam mengeboor pohon Sin itu dengan maksud supaya mereka dapat bersembunyi di dalam pohon Sin itu kalau ada musuh yang mengejarnya. Pekerjaan pohon itu ditekuni terus oleh  yang berpenyakit kista itu samapi selesai tanpa diketahui oleh kawan-kawannya. 

Begitu selesai, ia mulai naik di atas pohon Sin itu utnuk mengintai kalau-kalau pasukannya Pupa yang mengejar mera akan datang. Dan kawan-kawan lainnya semuanya serba sibuk memasak makanan ditepi kali Baliem dengan gembiranya. Segeralah ia kembali ketempat kawan-kawannya yang sedang masak babi tetapi begitu ia tiba ditempat kawan-kawannya ternyata kawan-kawannya sudah selesai makan, dan ia sendiri tidak kebagian makan. Anehnya dia tidak pernah menuntut atau marah kepada kawan-kawannya.

Ia selalu secara diam-diam pergi ketempat pohon Sin itu untuk mengintai jangan-jangan si tuan babi dengan pasukan-pasukannya datang mengkap mereka. Pada suatu saat dimana ia sedang mengintai di pohon Sin itu, dari jauh terlihat olehnya pasukan dari si tuan babi datang dengan beribu-ribu pasukannya. Segeralah ia turun dari pohon Sin itu dan lari menemui kawan-kawanya ditepi kali Baliem di mana mereka sedang berkumpul masak-masak, sesampai disana ia segera memberitahu kepada kawan-kawannya bahwa pasukannya si tuan babi sedang datang untuk menangkap kita. Begitu kawan-kawannya mendengar hal ini, segeralah meraka berkemas-kemas untuk melarikan diri, tetapi mereka bingung melarikan diri ke mana. Si kista ini melihat roman muka dari kawan-kawannya yang sudah pada ketakutan ia malah mengejek kawan-kawannya katanya “semuanya kamu mampus” semua pada kebingungan keculai si kista yang tinggal tenang-tenang saja karena ia sudah ada tempat untuk bersembunyi yang tidak mungkin di ketemukan oleh musuh.

Melihat gelagat kawan-kawannya yang sudah pada ketakutan si kista sudah jatuh kasihan dan terus dipanggilnya berkumpul di pohon Sin yang sudah di boor tadi oleh si kista. Setelah berkumpul semua tiba-tiba pohon Sin itu terbuka batangnya dan semua di suruh masuk oleh si kista dalam pohon Sin itu.

Yang terakhir masuk adalah si kista itu sendiri. Mereka masuk ke dalam pohon itu denagn membawa makanan berupa sayuran Hipiri, dan daging babi yang mereka masak tadi. Sedangkan pasukan si tuan babi makin dekat dan mereka melihat bahwa di pinggir kali baliem ada asap yang mengepul yang mana mengadakan musuh ada di tempa asap-asap keluar itu. Setibanya di tempat itu mereka tidak melihat apa-apa kecuali bekas masak. Mereka kepun tempat itu tapi semuanya meghilang. Pasukan si tuan babi di buat pusing oleh rombongan si kista. Tetapi salah seorang dari anggota pasukan si tuan babi rupanya sangat teliti sekali mencari jejak rombongan si kista di sekitar pohon Sin itu.

Tiba-tiba ia mendengar bunyi orang yang sedang mengunyah tulang babi keluar  dalam pohon Sin itu. Segera dipanggilnya anggota pasukannya dan meneliti keadaan pohon Sin itu. Mereka periksa semua mulai dari cabang sampai keranting-ranting pohon Sin itu tetapi sia-sia juga.

Akhirnya meraka ambil keputusan untuk menebang pohon Sin itu. Ternyata usaha ini juga tidak berhasil menemukan rombongan si kista. Pada hal rombongan si kista bersembunyi di ranting-ranting yang kecil yang ketika roboh ranting –ranting itu hanyut oleh kali baliem.

Terpaksa rombongan si tuan babi pulang dengan hampa tangan. sedangkan ranting-ranting kayu yang digunakan sebagai tempat persembunyian rom-bongan si kista yang hanyut oleh kali Baliem itu, terdampar di tepi muara sungai karena air sungai sudah surut. Penduduk kampung sekitar tempat ranting kayu itu terdampar kebetulan hanya wanita-wanita saja. Begitu meraka melihat ranting-ranting kayu yang terdampar di muara sungai itu, wanita-wanita itu segera mengumpul ranting-ranting kayu itu dan memasukan dalam kandang untuk di simpan. Tak seorangpun wanita-wanita itu menge-tahui bahwa dalam ranting kayu itu ada tersembunyi rombongan laki-laki si kista. Disamping ranting-ranting kayu itu disimpan juga wanita-wanita itu menyimpan bahan-bahan makanan seperti betatas masak (ubi jalar) dan lainnya sebagai makanan untuk dimakan kembali pulang dari kebun. Demikian setiap pergi ke kebun wanita-wanita ini selalu selalu meninggalkan makanan di kandang tempat ranting-ranting kayu itu tersimpan.Anehnya, setiap mereka kembai pulang dari kebun semua makanan  yang mereka tinggalkan didalam kandang habis entah di makan oleh siapa. Mereka mencari tahu siapa sebenarnya yang menghabiskan makanan yang mereka tinggalkan di dalam kandang itu. Akhirnya mereka menuduh adik perempuan mereka sendiri dan memukulnya sampai luka-luka. Tetapi adiknya selalu menyangkal tuduhan itu. Tetapi kakak-kakak perempuan tetap menuduh bahwa dia menghabiskan makanan itu. Kejadian ini berlaku setiap hari dan akhirnya sang adik menyarankan kepada kakak-kakaknya,agar dia di sem-bunyikan ditempat di mana makanan itu tersimpan untuk mengintai siapa sebenarnya yang selalu menghabiskan makan mereka. Kakak-kakaknya menyetujui saran adiknya ini. Besok harinya, sebelum mereka pergi ke kebunadik perempuan ini disembunyikan pada sudut dapur dan semua makanan disimpan di dapur.

Baru kakak-kakaknya berangkat kekebun kecuali adiknya yang ditinggal di rumah, karena ia diberi tugas mengeintai siapa yang sebenarnya yang menghabiskan makanan mereka, setiap mereka tinggal pergi kekebun.

Begitu keadaan rumah sudah sepi, keluarlah semua anggota si kista untuk mengambil makan yang biasa di tinggalkan oleh perempuan-perempuan itu di dapur. 

Hal ini jelas terlihat oleh wanita yang di tugaskan mengintai mereka ini. Setelah semua makanan mereka sikat habis, kembalilah si kista ketempat persembunyian mereka, sedangkan   si pengintai sudah mengetahui semua peristiwa ini.

Pada sore hari pulanglah kakak-kakak perempuan ini dari kebun. Begitu mereka sampai di rumah terus menannyakan hasil pengintaian yang di lakukan oleh adik perempuan mereka. Tanyanya kepada adiknya, bagai-manakah ? sudah dapatkah ? jawab adiknya : yah….  Semua saya sudah lihat. Bahwa di kandang kita ada laki-laki  yang ganteng-ganteng dan jago-jago bersembunyi di situ. Mereka keluar mengambil semua makanan kita yang ada dan terus mereka makan. Sehabis makan, mereka terus masuk kembali ke kandang. Hal ini sangat mengherankan kakak-kakaknya.

Dengan perasaan heran mereka cari semua laki-laki itu di dalam kandang. Tapi anehnya tak seorang pun yang mereka temukan. Mereka terdiam sejenak. Tiba-tiba salah seorang diantara mereka itu bersembunyi di dalam ranting-ranting kayu dari pohon Sin yang tersimpan di dalam kandang kita itu. Nah kalau begitu coba mari kita cari tahu kawan-kawan lainnya. 

Dengan perasaan gembira yang meluap-luap, semua ranting-ranting kayu itu di keluarkan dan satunya mulai membelah kayu itu. Begitu kayu itu terbelah, maka terlihatlah olehnya seorang laki-laki bersembunyi di dalam kayu itu. Segeralah keluar laki-laki itu dan wanita dengan penuh rasa gembira yang tak terhinga, langsung memeluknya serta mengatakan kepada kawan-kawannya : “ini suami saya”. Saya dapat ia di dalam ranting kayu itu. 

Setelah hal ini diketahui oleh kawan-kawannya, satu-persatu mereka mulai ambil-ambil bagiannya masing-masing untuk membelah kayu Sin itu. Dan ternyata usaha mereka ini tidak sia-sia belaka. Setiap orang yang kebagian seorang laki-laki yang langsung menjadi suaminya. Kecuali adik mereka yang ditugaskan mengintai laki-laki ini yang belum mendapat pasangan karena ia tidak kebagian ranting kayu itu. 

Sehinga ia mengeluh mengapa saya tidak dapat bagian ?  boleh kah saya mendapat seorang dari kakak-kakak ? keluhnya. Kakak-kakaknya menjawab.  kami hanya mendapat bagian yang pas-pas saja yakni masing-masing hanya satu orang. Jadi tidak bisa kami bagi lagi dan terpaksa adik sendiri tidak memperoleh bagian ejek kakak-kakaknya. 

Sang adik sangat sedih seklai perasaannya karena hanya dia sendiri yang tidak mendapat pasangan seperti kakak-kakaknya. Tapi dia masih punya perasaan bahwa dia akan mendapat pasangan juga. Ia tidak berputus asa.

Setelah ia perhatikan semua laki-laki yang ada sekarang ini, mereka merasa bahwa menurut ingatannya sewaktu mengintai tadi, bahwa masih ada seorang laki-laki dia antara ini yang belum hadir dan belum berada di tempat ini. Seingatnya bahwa bahwa laki-laki itu warna kulitnya kuning. Nah kalau demikian, baiklah saya akan periksa mungkin masih ada ranting-ranting kayu yang tertingal di dalam kandang. 

Begitu ia periksa, ternyata masih ada satu tangkai kayu Sin  itu yang belum terbawa keluar tadi oleh kakak-kakaknya tapi kayu itu banyak berbuku-buku. Mungkin karena banyak buku-bukunya maka kayu itu tidak di bawa oleh mereka, pikirnya. Di bawanya keluarlah kayu itu dan begitu kakak-kakaknya melihat kayu itu, mereka mengatakan sambil mengejeknya bahwa kayu tadi mereka sudah belah karena kerasnya. Kami sendiri tidak dapat mem-belahnya, apalagi kau, ejeknya. 

Enjekan kakak-kakaknya hanya dijawabnya dengan senyum penuh harapan. Saya coba-coba dulu. Nanti kalau tidak berhasil, apa boleh buat sudahlah. Ditekuninya kayu itu dengan kampaknya dengan penuh harapan yang sangat meluap-luap. Dan ternyata usahanya ini betul-betul tidak sia-sia belaka. Kayu itu terbelahlah, dan keluarlah seorang laki-laki yang ganteng dan perkasa dengan warna kulit kuning sesuai dengan apa yang dia saksikan pada waktu ia mengintai mereka-mereka ini.

Dengan gembiranya ia berteriak kepada kakak-kakaknya : ini suami saya katanya. Saya dapat yang ini yang lebih ganteng dari pada kakak-kakak punya, ejeknya. Begitu kakak-kakaknya melihat kenyataan ini, mereka jadi iri hati. 

Engkau wanita yang mukanya jelek mau kawin dengan laki-laki yang ganteng dan gagah seperti diakah ? ejek kakak-kakaknya. Lebih baik berikan kepada kami laki-laki itu dan nanti kami ganti dengan yang lain, ejek kakak-kakaknya lagi. 

Tadi adik sudah katakan toh ? dan kakak-kakak tidak mau bagi sama saya toh ?. “sekarang saya tidak mau, karena ini adalah hasil usaha sendiri”, kata sang adik. 

Akhirnya kakak-kakaknya mengalah. Dengan demikian semua wanita-wanita ini sudah mempunyai pasangan (suami) masing-masing. 

Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, demikian seterusnya pasangan-pasangan ini melewati hidupnya dengan perasaan bangga dan bahagia, tetapi disamping itu suami-suami mereka tidak pernah membantu pekerjaan isterinya baik mengerjakan kebun maupun mengolah hasilnya bahkan sampai memasaknya. Hal itu tidak pernah dilaksanakan, kecuali suami dari adik perempuan mereka sendiri yang setiap harinya pergi bersama-sama istrinya membantu pekerjaan-pekerjaan di kebun. Sedangkan suami-suami dari   kakak-kakaknya tidak pernah demikian, dan mereka hanya tinggal di rumah saja setiap harinya. Pekerjaannya hanya menghias diri, menganyam sekan, mengarang sair-sair lagu, dan menyanyi-nyayi terus. 

Sedangkan istri-istri mereka setiap harinya bekerja di kebun mulai mem-bersihkan kebunnya sampai mengolah hasilnya. Bahkan sampai memasak-nya. Itu semua dikerjakan oleh sang istri. Tidak seperti halnya dengan suami dari adik sendiri. Dia setiap harinya membantu pekerjaan istrinya, demikian seterusnya.  Pada suatu ketika, begitu istri-istri mereka kembali dari kebun dan melihat tingkah laku dari suami-suami mereka yang pekerjaannya hanya itu-itu saja, istri-istri ini bertanya kepada suami dari adik perempuan mereka : 

“Apakah suami-suami kita ini dulunya tidak pernah bekerja seperti kau ini “. Apakah mereka tidak bisa mencontoh rajinnya suami dari adik kita ini ? . 

“Apakah mereka-mereka setiap harinya tidak merasa laparkah ?.” mendengar pertanyaan-pertanyaan dari istri-istri ini, laki-laki ini hanya tersenyum saja. Tapi secara diam-diam pergi melaporkan hal itu kepada semua kakak-kakaknya (suami-suami). Mendengar laporan ini kakak-kakaknya pada marah, sebab mereka rasa tersinggung dan terpukul perasaannya. Mereka berpikir, kira-kira tindakan apa yang akan mereka laksanakan sehubungan dengan hal itu. 

Keesokan harinya, mereka berkumpul di halaman rumah, membicarakan apa yang akan diperbuat oleh mereka. Dan pada saat itulah di putuskan mereka akan meninggalkan istri-istrinya. Begitu keputusan itu di ambil, semua mereka langsung mengatur dirinya dengan jalan menghias diri sedemikian rupa kecuali laki-laki yang rajin itu tidak ikut ambil bagian, sebab ia pagi-pagi sekali sudah berangkat kekebun sendirian. Jadi ia tidak tahu menahu tantang keputusan mereka ini. Begitu selesai menghias diri, di panggilah semua istri-istri mereka untuk menyaksikan mereka. Katanya, hee  “lihatlah kemari”, istri-istri mereka pada heran melihat sikap dari suami-suami mereka yang sedang berkumpul di halaman. Begitu mereka lihat keluar, laki-laki yang tertua mulai sssssttt….terbang hilang. Diikuti oleh kawan-kawannya. Mereka terbang ke angkasa tinggi dan tiba-tiba menghilang entah kemana. Dengan hilangnya suami-suami mereka ini semua istri-istri mereka berteriak-teriak. Aduuuuuh…..aduuuuuh, kembaliiiiii……kami tipuuuu…..kami tipu. Laki-laki itu sempat menjawab : “kami sudah dimarahi maka kami cerai saja”. 

Lalu hilanglah mereka dari pandangan istri-istrinya. Dengan kepergian suami mereka ini semua istri-istri dalam keadaan sedih dan berduka. Tapi kepergian suami mereka ini tidak di ketahui oleh suami dari adik perempuan mereka. Sebab dia sudah lebih duluan keluar rumah pergi kekebun sebelum kakak-kakaknya menghilang. 

Setelah matahari mulai gelap, barulah ia kembali dari kebunnya dan langsung masuk kerumah tempat tinggal kakak-kakaknya. Biasanya begitu ia kembali dari kebun kakak-kakaknya selalu ada dirumah. Tapi anehnya kali ini mereka tidak ada. Semua ruangan dia periksa, tapi tak seorangpun yang ia temukan. Dan ibu-ibu sebelumnya sudah bersatu untuk merahasiakan hal ini kepadanya. Dengan maksud agar laki-laki yang tingga satu-satunya ini menjadi milik mereka bersama. Kemana kakak-kakak saya semua ini ? Tanya si laki-laki ini kepada ibu-ibu. Ibu-ibu malah balik bertanya kepadanya : kemana mereka itu ? kami juga tidak tahu. Akh, pasti kamu tahu, jawab laki-laki itu. Beri tahu saja dimana mereka-mereka itu desaknya. Karena laki-laki itu mendesak terus kepada ibu-ibu maka rahasia itu terpaksa terbongkar oleh mereka itu sendiri. Mendengar hal ini, laki-laki itu mulai berpikir untuk bertindak seperti yang diperbuat oleh kakak-kakaknya. 

Keesokan harinya, ia mulai menghias diri seperti kakak-kakaknya, dan setelah itu ia keluar halaman dan terus memberi tahu kepada ibu-ibu yang ada di situ. Eeeeee lihat kemari katanya. Sebelum itu istrinya sudah siap terlebih dahulu untuk mencegah niat suaminya itu. 

Dan ia lebih dahulu keluar dan langsung mendekati suaminya tapi rupanya maksud ini lebih dahulu sudah diketahui oleh suaminya, sehingga begitu ia keluar suaminya langsung : sssssttt….terbang hilang, tapi istrinya hanya sempat pegang burungnya saja (kemaluannya). Dan ia pegang dengan sekuat tenaga, sehingga burungnya itu tercabut tapi suaminya tetap terbang terus sampai menghilang entah kemana arahnya. Oleh istrinya burungnya ini di simpan di atas dapur persis dimana ia duduk setiap saat. Maksudnya supaya burung itu bisa kering. Sebab menurut keyakinannya burung yang sudah dikeringkan itu bisa mengadakan hubungan jasmani dengannya. Caranya dengan mengucapkan : liko-liko-liko-liko, yang artinya, masuklah-masuklah. 

Masuklah ketempat biasa maka begitu mendengar ucapan itu, burung ini segera masuk ketempat tuannya. Ternyata hal ini memang betul dilaksanakan oleh perempuan itu. Setiap ia pulang dari kebun dan langsung masuk kedapur, begitu ia masuk kedapur, di pangilnya burungnya itu dengan. liko-liko-liko-liko demikian dan seterusnya. Maka turunlah burung itu dan langsung masuk ketempat biasanya. Dan begitu selesaui burung itu naik lagi kesarangnya semula, demikian dan seterusnya. 

Pada suatu ketika waktu ibunya sedang berada dikebun datanglah seorang perempuan dengan maksud untuk merokok, dan yang ada hanya burungnya saja, perempuan itu masuk dan duduk persis di tempat duduk yang biasa tuannya selau duduk. 

Sang burung, begitu mendengan ada orang didalam dapur itu, segeralah ia turun dan masuk ketempat biasanya. Tapi perempuan ini tidak tahu sehingga burung ini selalu dibuangnya saja ketempat lainnya. Tapu sang burung masih terus mencari-cari tempat yang biasanya. Dan perempuan itu membuangnya terus. Dia berpikir ada apa ini ? 

Burung itu masih tetap seperti semula. Setelah bosan perempuan ini, maka burung itu di buang kedalam api dan terbakar, sehinga akibatnya mengeluarkan ledakan-ledakan yang menakutkan. Piker perempuan itu :  barang apa sebenarnya yang saya masukkan dalam api ini ? mungkin ini menjadi suatu persoalan dengan diri saya ? akhirnya ia pergi meninggalkan tempat itu. Saat itu hari sudah mulai gelap. Begitu ia mulaui meninggalkan rumah itu beberapa lamanya pulanglah orang-orang dari kebunnya menuju rumahnya masing-masing. Tidak ketinggalan yang punya burung ini. Ia juga pulang kerumahnya dan ia langsung masuk kedapurnya memangil burungnya. “liko-liko…..liko-liko…..liko-liko…., tapi tidak ada yang muncul. Dia pangil lagi liko-liko liko-liko liko-liko, juga tidak ada. Kemankah perginya burungku ? tanyanya dalam hati. Di periksanya sekitar tempat itu, tapi tak ada yang ia temukan. Pandangannya lau di alihkan ketempat api yang sedang mengeluarkan asapnya ternyata burung itu sudah terbakar dan sudah dimakan oleh api. Yang ada hanyalah bangkainya saja.

Ia Tanya pada ibu-ibu lain : mereka mengatakan bahwa tadi ada seorang ibu yang masuk disitu untuk mengambil api untuk merokok. 

Segeralah dicarinya wanita itu di kampungnya.  Begitu ketemu ia langsung menanyakan burungnya itu. Jawabnya, memang saya tadi singgah merokok di dapurmu itu. Tapi ketika saya duduk-duduk merokok datanglah burungmu itu langsung masuk di tempat pinta manusia. Dan waktu itu saya langsung tangkap dia dan masukkan kedalam api. Karena saya takut, maka diam-diam saya pergi meninggalkan tempat itu. Begitu mendengar keterangan dari perempuan ini si tuan burung ini mengatakan baiklah. Itu saja. Saya datang hanya menanyakan burung saya itu.  Dan ke esokan harinya wanita yang datang merokok itu di bunuh hanya gara-gara burung yang di bakar. Dan mulai dari saat itu selalu timbul peperangan di kalangan masyarakat. 

Kode Iklan Bawah Artikel
Bagikan ke Facebook

Artikel Terkait

Kode Iklan Tengah Artikel