Seorang Tuan, Anjing dan Lalat - Cerita Rakyat Moi
Kode Iklan Atas Artikel
SEORANG TUAN, ANJING DAN LALAT
(Versi Moi)
Pada zaman dahulu, disebuah desa terpencil di tanah Moi, terdapat sebuah perkampungan miskin. Di perkampungan ini hiduplah seorang manusia yang hidupnya sebatang kara. Ia tidak memiliki ayah, ibu dan sanak saudara. Ia hidup hanya ditemani oleh seekor anjing peliharaannya dan seekor lalat sebagai teman hidupnya.
Suatu ketika, Tuan ini mengajak anjing peliharaannya dan lalat sebagai teman hidupnya pergi berburu. Sebelum pergi, Tuan dari kedua hewan ini mempersiapkan segala peralatan yang dibutuhkan untuk berburu berupa; parang, tombak, panah, noken dan bekal dalam perjalanan. Setelah semuanya siap Tuan tersebut mengajak kedua hewan peliharaannya untuk berburu.
Ia berburu dari pagi hingga siang. Mereka hanya mendapatkan seekor Kasuari. Karena terlalu lelah ia berburu, maka mereka beristirahat. Waktu istirahat mereka rencanakan digunakan untuk membakar Kasuari. Tugaspun mulai dibagikan, anjing mencari kayu bakar, sedangkan lalat mencari daun-daun sebagai alas daging Kasuari.
Setelah siap semuanya, Tuan tersebut mencari korek api yang terbuat dari bambu yang tersimpan di dalam noken. Namun ternyata korek api tersebut tidak ada. Tuan tersebut menanyakannya kepada anjing, “Apakah kau membawa korek apai?” Anjing menjawab, “Tidak”. Pertanyaan yang sama di lontarkan pula kepada lalat namun jawabannyapun sama.
Karena ketiganya tidak ada yang membawa korek api, maka mereka berunding untuk menentukan siapa diantara mereka yang ke kampung untuk mengambil api. Di dalam pertemuan itu timbul perdebatan yang seru, sebab sulit menentukan siapa sebaiknya yang pergi. Kalau manusia yang pergi, siapa yang harus menjaga Kasuari, dan ditakutkan natinya lalat dan anjing memakannya. Oleh karena itu anjingglah yang ditunjuk, namun anjing tidak mau melaksanakan tugas tersebut. Maka dengan terpaksa lalatlah yang pergi ke kampung untuk mengambil api.
Begitu lama anjing dan manusia menuggu kedatangan lalat. Namun ia tak kunjung datang, disamping itu keduanya, manusia dan anjing telah merasa lapar. Kemudian dengan segera anjing menyusul lalat ke kampung.
Setibanya di perkampungan anjing melihat lalat sedang asyiknya mengumpulkan sisa-sisa makan manusia. Selanjutnya anjing menjadi geram dibuatnya, dan langsung memarahinya. “Kamu ini, disuruh bukanya segera melaksanakan, tugas yang dibebankan ,tambah mengerjakan hal yang lain”. Kemudian anjing mengajak lalat untuk kembali ke dalam hutan, namun lalat menolaknya. Maka dengan terpaksa anjing segera kembali ke hutan sendirian.
Sejak saat itulah anjing selalu setia mendampingi manusia/Tuannya. Sedangkan lalat karena sifat egoisnya mementingkan diri sendiri, sehingga ia tidak lagi bersama-sama dengan manusia.
Kode Iklan Bawah Artikel