Cerita Rakyat Teminabuan - Bidan Bayi (Versi Tehit)
Kode Iklan Atas Artikel
BIDAN BAYI
(Versi Tehit)
Adalah suatu suku bernama Kondologit. Ia hidup di muara sungai Beraur di suatu tempat yang disebut Amaksahen. Tempat itu sangat cocok untuk kehidupan mereka. Walaupun begitu suatu kesulitan yang setiap kali mereka hadapi adalah bahwa bila seorang wanita telah tiba saatnya untuk melahirkan, perutnya selalu harus dibedah. Anaknya diselamatkan sedangkan ibunya itu harus menerima kematian. Kebiasaan yang menyedihkan ini berlaku bagi setiap wanita yang melahirkan di tempat itu, dan hal ini diterimanya dengan pasrah. Anaknya tentu saja akan dipelihara oleh sanak saudaranya.
Hal itu disebabkan orang-orang itu tidak tahu bagaimana menolong seorang perempuan yang melahirkan. Karena itu setiap perempuan hamil yang tiba saatnya melahirkan selalu saja perutnya dibedah. Anaknya diambil sedang tentu saja ibunya dibiarkan mati, karena untuk menjahit kembali pembedahan itu mereka juga tidak tahu. Keadaan ini terus berlangsung dari hari kehari hingga suatu waktu tibalah seorang perempuan ke tempat itu. Perempuan itu adalah seorang budak belian dari suku Krimadi yang diperdagangkan oleh raja Konjol.
Setelah beberapa lama ia tinggal di tempat itu, ada pula seorang perempuan yang hendak melahirkan. Perempuan bekas budak belian itu telah cukup maklum bahwa perempuan malang itu akan segera mengalami kematian kalau perbuatan orang-orang itu tidak segera dicegah. Maka apabila datang juru bedah untuk membadah perempuan yang hendak melahirkan itu, perempuan bekas budak belian itupun mencegahnya. “jangan dulu” katanya.” Pergilah tinggalkan perempuan hamil itu. Biarkan aku yang menolongnya. Orang-orang itu merasa heren melihat keberanian perempuan itu mencegah sang juru bedah. Tetapi mereka menuruti juga perkataanya. Perempuan itupun ditinggalkan sendiri bersama wanita yang hendak melahirkan itu. Setelah pergi semuanya, bekas budak belian itupun membidani perempuan yang hendak melahirkan itu. Tiada berapa lama bayinya lahir, sedang ibunyapun selamat dari kematian.
Dengan tersenyum bekas budak belian itu menyerahkan bayi itu kepada ibunya. Setelah itu ia memanggil kembali orang-orang banyak yang sedang berkerumun menantikan kejadian itu. “Mari dan lihatlah. Bayi yang lahir dan ibunya yang selamat dari bahaya kematian. Tidak perlu lagi perut wanita hamil dibedah seperti yang selalu kamu lakukan”, katanya. Orang-orang itu pun dibuat takjub dan heran. Berkatalah mereka sama sendirinya, marilah kita pergi ketempat asal orang ini agar istri-istri kita dapat ditolong kalau melahirkan, sehingga kitapun dapat memperoleh lebih banyak anak.
Keesokan harinya merekapun berkemas, perahu-perahu mereka diikat dan diperlengkapi seperlunya. Layar-layar segera dijahit. Bekal untuk perjalanan disiapkan. Maka pada hari yang ditetapkan berangkatlah semua orang yang berada di tempat itu menuju suatu negri yang belum pernah diketahuinya. Selang berapa lam berlayar tibalah mereka di suatu tempat yang disebut Serenombo. Di tempat ini mereka melihat asap api di kejauhan. Tahulah mereka bahwa disitu ada kehidupan. Mungkinkah itu negri yang mereka cari?. Ternyata asap api itu berasal dari daerah kepala suku Salambo yang saat itu sedang menempa parang. Melihat orang-orang itu Salambo tanpa curiga datang menemui mereka serta mengadakan perkenalan. Kondologit pun memohon bantuan agar mereka diberi api. Selama perjalanan itu ombak serta angin telah memadamkan api serta membasahi semua milik mereka. Salambo pun memberi mereka api katanya, “marilah bermalam di sini. Besok kita akan mudik bersama. Karena tempat yang sesungguhnya kalian tuju berada di udik sungai ini”.
Keesokan harinya mereka pun mudik bersama. Tibalah mereka ke pelabuhan umum yang berlatarkan sebuah air terjun yang sangat jernih airnya. Itulah Khohoin. Dari seekor Raur yang dibawa Kondologit keluarlah biji-biji pohon Nakino yang bertumbuh hingga saat ini di pelabuhan itu. Karena tempat itu telah padat didiami Kondologit pun mudik mengikuti kali Setsyari. Tiba di suatu tempat yang disebut Khewis tinggalalh ia di sana. Nenas yang dimakan Kondologit yang digunakan untuk membedah perempuan hamil itu masih tersimpan dengan baik hingga sekarang.
Kode Iklan Bawah Artikel