Cerita Rakyat Ayamaru - Mitos Keberadaan Burung Woo di Pedalaman Ayamaru
Kode Iklan Atas Artikel
MITOS KEBERADAAN BURUNG WOO
DI PEDALAMAN AYAMARU
(Versi Ayamaru)
MITOS KEBERADAAN BURUNG WOO
DI PEDALAMAN AYAMARU
(Versi Ayamaru)
Burung Woo adalah sejenis burung Cenderawasih betina yang sangat elok sekali warnanya, yang pada waktu itu hanya terdapat di daerah pantai.
Pada setiap acara atau upacara ritual yang diadakan oleh margasatwa yang dilakukan di pantai atau pedalaman mereka pasti saling mengundang.
Hal itu telah terlaksana di bagian pantai. Undangan telah disebarkan ke seluruh penjuru, bahkan sampai di daerah pedalaman atau pegunungan kepada semua satwa yang ada.
Tidak ketinggalan pula Sangger burung yang berwarna hitam, dan memiliki ekor bersilang yang panjang bagaikan ikan. Waktu perayaan pestapun tiba. Sangger tidak menyia-nyakan kesempatan tersebut untuk mencari teman hidupnya.
Sebelumnya Sangger telah memperoleh informasi bahwa di wilayah pantai ada seekor burung betina elok bernama Woo. Selama ini berbagai jenis burung jantan saling berlomba membujuk dan memboyongnya ke daerah pedalaman. Namun semuanya belum ada yang berhasil, karena mereka tidak mampu menjawab pertanyaan yang diberikan oleh Woo. Lewat kesempatan tersebut Sengger bertekat harus dapat membawa pulang Woo ke pedalaman bersamanya.
Acara pesta telah usai, semua satwa telah bersiap-siap untuk kembali ke daerah asal mereka. Dalam suasana itu Sanggerpun sibuk dan berupaya keras mendekati si elok Woo, untk dibujuk agar ia mau diajak pulang ke pedalaman. Sangger sudah tak sabar ingin membujuk Woo. Maka terlontarlah satu pertanyaan Sangger kepada Woo. “Woo yang kucintai bolehkah aku bersamamu ke pedalaman untuk selamanya?” Woo menjawab dengan senyum, ”Tawaran itu aku menerimanya tetapi apakah engkau sudah siap?” “Apa yang harus aku siapkan.” Woo menjawab, “Yang aku maksudkan adalah, makanan apa yang anda makan? Bahan apa yang anda gunakan untuk tidur? Yang terakhir bentuk sarangmu bagaikan apa? Kemudian Sangger menjawab dengan wajah serius. “Jika engkau mengikuti aku, makanan yang kita makan adalah buah jambu masak dan buah sumo. Bahan untuk tidur adalah anyaman manik-manik, gElang, pisau, parang, cincin, dan lain-lain. Bentuk sarangku bagaikan rumah panggung atau Samu Chalit.
Seluruh jawaban Sangger atas semua pertanyaan yang dilontarkan Woo, ternyata dapat ia terima, dan sebagai keputusan akhir Woo bersedia untuk ikut ke pedalaman. Mendengar jawaban itu Sangger sangat gembira, dan saat itu juga mereka pergi meninggalkan daerah pantai dan menuju daerah pedalaman/gunung.
Ditengah perjalanan Woo bertanya, “Sangger aku sudah lapar, mana makanan untuk kita makan? Sangger menjawab sebentar lagi kita peroleh makanan. Makanan yang dimakan adalah belalang, bukan jambu atau buah sumo. Kelemahan Sangger mulai diketahui Woo, tetapi Woo masih bersabar dan melanjutkan perjalanan hingga hari sudah mulai senja.
Pertanyaan berikut ditanyakan kembali kepada Sangger. Sangger hari sudah mulai malam dimanakah tempat tidur kita? Sangger menjawab “Woo mari duduk dan tidur di sini”. Woo mulai mengerti bahwa semuanya itu hanya tipu muslihat belaka. Kemudian Woo bertanya, “Mana makanan berupa buah-buahan masak yang dulu pernah dijanjikan? Mana samu chalit yang dulu kau janjikan? Mana tempat tidur yang dulu juga kau janjikan? Semua pertanyaan itu tidak dapat dijawab oleh Sangger. Sangger duduk berdiam diri di atas sarangnya yang tersusun dari beberapa ranting kayu kering yang merupakan tempat tidurnya yang nyaman menurut Sangger.
Semuanya itu menimbulkan kekecewaan batin bagi Woo, tidak mungkin Woo kembali lagi ke daerah asal yaitu ke pantai. Jalan keluar yang ditempuh Woo adalah harus berupaya untukmembuat sarang sebagai tempat tidurnya.
Bentuk sarang yang dibuatnya berbentuk payung yang tergantung di ujung tali/rotan dalam bentuk mandiri. Setelah sarangnya selesai Woopun tidur harus bersama-sama Sangger sebab dianggap sebagai teman hidupnya yang sejati.
Woo menerima Sangger untuk tidur bersama, tetapi Sangger tidur di depan pintu tidak diperbolehkan tidur di dalam sangkarnya yang berbentuk payung itu. Kenyataan itu hingga sekarangpun Sangger tetap tidur di depan pintu walaupun tempat tinggal Sangger telah berpisah dengan Woo.
Usaha Woo untuk membuat sarang sudah selesai dan telah berakhir penyesalannya, namun penyesalan itu dilampiaskan dalam bentuk syair sebagai berikut;
- Sanggero… 2x - Samu tiwia nawe
- Bagias tiwia nawe - Sagi tiwia nawe
- Bonit tiwa name - Chaban tiwia nawe
- Mabo aut mioo… 2x - Mabo aut mio… 2x
- Teserau kero, keroo… 2x
Beranjak dari ceritera rakyat ini terbukti hingga saat ini burung Woo kini berada di daerah pedalaman dengan bentuk sarang yang lebih unik dari sarang burung lainnya. Makanan yang dimakan adalah semut, dan belalang hingga saat ini. Sedangkan jenis buah-buahan apapun tidak ada yang disentuhnya.
Kode Iklan Bawah Artikel