Cerita Rakyat Teminabuan - Menara Wloin ke langit
Kode Iklan Atas Artikel
MENARA WLOIN KE LANGIT
(Versi Tehit)
Diceritakan orang tentang Wloin, yang menyuruh orang-orang yang mendiami dataran rendah daerah Tehit untuk membangun menara ke langit agar pada suatu waktu rakyat bisa naik mendapatkan Tuhan dan melihat apa yang sedang dikerjakanNya di atas. Setelah mengatakan demikian, keesokan harinya orang pun mulai sibuk bekerja. Ada yang menebang pohon, ada yang merentang rotan, ada yang mengurus makan, demikian masing-masing sibuk melaksanakan pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya. Hari berganti hari, malampun berganti dan tidak disadari bahwa menara itu sudah dangat tinggi. Orang terus sibuk bekerja siang malam karena tahu bahwa suatu hari mereka akan naik ke langit berjumpa Tuhan.
Menara itu semakin tinggi hingga menyentuh awan. Setelah itu semua orang sibuk menaiki tangga menara itu kecuali orang perempuan yang telah hamil tua yang tinggal di kaki menara itu; badannya terlampau berat untuk menaiki tangga menara itu. Tiba-tiba perempuan hamil itu mendengar bunyi berdetak pada menara lalu berkatalah ia, “Wahai, aku mendengar menara ini berdetak, aku kuatir ia akan tumbang”. Tetapi orang-orang yang sibuk menaiki menara itu mengejeknya dan berkata: “jangan omong sembarangan si gendut, mungkin perut buncitmu itulah yang berdetak”.
Demikianlah perempuan hamil itu terpaksa tidak dapat berbicara lagi akibat penghinaan itu. Apa lagi orang-orang itu tidak memperdulikannya, padahal ia tahu bahaya yang akan terjadi. Setelah setiap orang berada pada menara itu, lalu orang yang berada pada puncak mendorong tangga hendak menyentuh langit tetapi datang sebuah angin besar menghempaskan tangga itu sehingga jatuh. Serentak dengan itu seluruh menara roboh dan jatuh berantakan bersama ribuan manusia itu. Sebagian besar orang-orang itu mati sedangkan lainnya yang hidup mengalami luka berat.
Sebagai akibat kesombongannya, Tuhan mengacaukan bahasa mereka itu sehingga mulailah berbantah-bantah sama sendirinya. Mereka tidak dapat mengerti satu sam alin karena bahasanya sudah berbeda-beda, lalu orang-orang itupun pergi mengungsi meninggalkan tempat itu ke seluruh penjuru bumi. Tinggallah perempuan hamil itu yang kemudian melahirkan seorang anak lelaki, yang diberi nama Wloin mengikuti nama Wloin tua penganjur pembuatan menara itu. Setelah besar anak itu mengawini ibunya. Mereka memperoleh seorang anak yang menurunkan suku Wloin yang sekarang ini.
Tempat yang digunakan oleh orang untuk membangun menara ke langit itu hingga hari ini tak satupun tumbuhan yang terdapat diatasnya, sedang segala sesuatunya telah berubah menjadi batu.
Kode Iklan Bawah Artikel