Terjadinya Api (Versi Asmat) | Cerita Rakyat Papua
Kode Iklan Atas Artikel
TERJADINYA API
(Versi Asmat)
Zaman dahulu manusia memakan makanan mentah. Karena mereka belum mengenal yang disebut takaf (api). Mereka makan makanan yang dipanaskan dengan perantara panas matahari. Sagu, ikan dan daging dijemur di panas matahari, lalu mereka makan.
Di suatu tempat, yang bernama Pidalo Takaf Nit yang sekaranag terletak di desa Selil. Disitu tinggal sekelompok manusia yang hanya terdiri dari Fan atau marga Gebze. Dipimpin oleh seorang yang terkenal bernama Gelol.
Mereka tinggal di Pidalo Takaf Mif. Mereka memelihara seekor buaya yang cukup besar. Buaya ini pintar dan dapat diperintah, apa yang mereka suruh dia dilaksanakan. Nama buaya itu Nggen Nggen.
Pada suatu hari Gelol pergi berburu di hutan. Tiba-tiba dia melihat cecak besar tidur dan kelihatan kulitnya bernyala-nyala seperti seperti lidah api. Gelol heran dan tidak mengerti apa yang harus ia perbuat. Lalu ia mengambil kayu yang namanya kayu Ibub seperti gabus. Gelol dengan pelan-pelan mendekatkan kayu itu ke badan cecak. Setelah mengenai badan cecak Gelol melihat asap keluar dan jadilah api. Ia mencium asap dan meraba asap, dengan demikianlah terbuka pikirannya bahwa itu api (takaf). Dia segera kembali ke kampung dengan membawa api itu.
Ketiga orang kampung melihat Gelol pulang dengan membawa takaf semua senang. Mereka bekerja keras mencari kayu pilihan yang kering yaitu kayu keras seperti:
1. Alang --- Jambu Hutan
2. Ake --- Gambir
3. Lane -- Bintanggur
Tiga jenis kayu inilah yang mereka pilih agar api tersebut dapat bertahan. Siang malam mereka menjaga takaf tersebut dengan ketat dikelilingi pos-pos penjagaan. Mereka apabila marga lain mencuri takaf tersebut. Setiap malam mereka berpesta pora sambil mengejek marga-marga lain yang sementara itu mereka masih makan makanan mentah.
Marga-marga itu mendengar ada api di Pidalo Takaf Mit. Mereka lalu pergi kesana berperang melawan marga Gebze. Setelah Gelol meninggal maka orang-orang kampung menyerah dan semua api dirampas oleh marga lain. Pemberontkan itu dipimpin oleh Bwati dari marga Kaize. Bwati membawa api itu sampai di Saliaw daerah Welo. Dan mereka membagi api itu ke semua marga yang ikut perang sampai turun temurun kepada anak cucu sekarang.
Di suatu tempat, yang bernama Pidalo Takaf Nit yang sekaranag terletak di desa Selil. Disitu tinggal sekelompok manusia yang hanya terdiri dari Fan atau marga Gebze. Dipimpin oleh seorang yang terkenal bernama Gelol.
Mereka tinggal di Pidalo Takaf Mif. Mereka memelihara seekor buaya yang cukup besar. Buaya ini pintar dan dapat diperintah, apa yang mereka suruh dia dilaksanakan. Nama buaya itu Nggen Nggen.
Pada suatu hari Gelol pergi berburu di hutan. Tiba-tiba dia melihat cecak besar tidur dan kelihatan kulitnya bernyala-nyala seperti seperti lidah api. Gelol heran dan tidak mengerti apa yang harus ia perbuat. Lalu ia mengambil kayu yang namanya kayu Ibub seperti gabus. Gelol dengan pelan-pelan mendekatkan kayu itu ke badan cecak. Setelah mengenai badan cecak Gelol melihat asap keluar dan jadilah api. Ia mencium asap dan meraba asap, dengan demikianlah terbuka pikirannya bahwa itu api (takaf). Dia segera kembali ke kampung dengan membawa api itu.
Ketiga orang kampung melihat Gelol pulang dengan membawa takaf semua senang. Mereka bekerja keras mencari kayu pilihan yang kering yaitu kayu keras seperti:
1. Alang --- Jambu Hutan
2. Ake --- Gambir
3. Lane -- Bintanggur
Tiga jenis kayu inilah yang mereka pilih agar api tersebut dapat bertahan. Siang malam mereka menjaga takaf tersebut dengan ketat dikelilingi pos-pos penjagaan. Mereka apabila marga lain mencuri takaf tersebut. Setiap malam mereka berpesta pora sambil mengejek marga-marga lain yang sementara itu mereka masih makan makanan mentah.
Marga-marga itu mendengar ada api di Pidalo Takaf Mit. Mereka lalu pergi kesana berperang melawan marga Gebze. Setelah Gelol meninggal maka orang-orang kampung menyerah dan semua api dirampas oleh marga lain. Pemberontkan itu dipimpin oleh Bwati dari marga Kaize. Bwati membawa api itu sampai di Saliaw daerah Welo. Dan mereka membagi api itu ke semua marga yang ikut perang sampai turun temurun kepada anak cucu sekarang.
Kode Iklan Bawah Artikel