Cerita Anak Papua - Kelelawar dan Katak
Kode Iklan Atas Artikel
DIBUNI DAN DAPA
(KELELAWAR DAN KATAK)
SUKU MONI, KAB. PANIAI
Dibuni dan Dapa bersahabat baik. Mereka hidup satu kampung. Mereka selalu bersama-sama dalam segala hal. Suatu hari mereka menanam pisang dikebunnya. Pisang yang ditanam beraneka ragam.Sayangnya pisang yang ditanamDibuni selalu mati.Sedangkan pisang yang ditanam Dapa sangat subur dan berbuah lebat.Beberapa berikutnya pisang Dapa sudahtua dan sebagian mulai kuning.
Sebenarnya Dibuni mulai marah, tetapi tidak jadi marah. Dia berkata “Nanti kalau pisang sudah masak pasti saya yang disuruh mengambilnya”.Dibuni tinggal tenang-tenang duduk di rumah sambil menunggu Dapa. Setiap hari dapa mulai memanjat pisang yang sudah tua itu. Usahanya selalu gagal. Dia tidak dapat memanjat pisangnya yang sudah masak. Kemudian Dapa menemui Dibuni untuk minta tolong memanjatkan pisang yang sudah masak. “Hai kawan! Saya minta tolong panjatkan pisang saya yang sudah masak itu ! suarnya pelan. “ Saya janji nanti hasilnya akan saya bagi “ lanjutnya. “ Baik!”
Sambut Dibuni dengan senang.
Dibuni mulai panjat pohon pisang yang buahnya sudah masak. Dapa hanya menjaga di bawah pohon. Diam-diam Dibuni memetik pisang yang masak dan langsung memakannya. Pisang yang muda dibuang ke bawah. Dapa melihat kelakuan Dibuni menjadi sangat marah. Dapa mau membalas dendam. Dapa pergi ke kali dan berdoa pada alam agar hujan besar dan banjir.Doa Dapa dikabulkan oleh Tuhan. Tiba-tiba hujan besar. Banyak pohon yang roboh. Air mulai menggenang di mana-mana. Waktu itu Dibuni masih tidur di atas pohon karena kekenyangan makan pisang.Pohon pisang tempat tidur Dibuni ikut hanyut. Dibuni jatuh dan ikut hanyut dibawa air. Dia tak dapat berenang. Akhirnya Dibuni mati kekenyangan minum air. Kejadian itu disaksikan oleh Dapa. Dapa merasa puas bisa membalas dendamnya. Kini Dapa dapat hidup bebas lagi tanpa ada yang menggangu.
Sebenarnya Dibuni mulai marah, tetapi tidak jadi marah. Dia berkata “Nanti kalau pisang sudah masak pasti saya yang disuruh mengambilnya”.Dibuni tinggal tenang-tenang duduk di rumah sambil menunggu Dapa. Setiap hari dapa mulai memanjat pisang yang sudah tua itu. Usahanya selalu gagal. Dia tidak dapat memanjat pisangnya yang sudah masak. Kemudian Dapa menemui Dibuni untuk minta tolong memanjatkan pisang yang sudah masak. “Hai kawan! Saya minta tolong panjatkan pisang saya yang sudah masak itu ! suarnya pelan. “ Saya janji nanti hasilnya akan saya bagi “ lanjutnya. “ Baik!”
Sambut Dibuni dengan senang.
Dibuni mulai panjat pohon pisang yang buahnya sudah masak. Dapa hanya menjaga di bawah pohon. Diam-diam Dibuni memetik pisang yang masak dan langsung memakannya. Pisang yang muda dibuang ke bawah. Dapa melihat kelakuan Dibuni menjadi sangat marah. Dapa mau membalas dendam. Dapa pergi ke kali dan berdoa pada alam agar hujan besar dan banjir.Doa Dapa dikabulkan oleh Tuhan. Tiba-tiba hujan besar. Banyak pohon yang roboh. Air mulai menggenang di mana-mana. Waktu itu Dibuni masih tidur di atas pohon karena kekenyangan makan pisang.Pohon pisang tempat tidur Dibuni ikut hanyut. Dibuni jatuh dan ikut hanyut dibawa air. Dia tak dapat berenang. Akhirnya Dibuni mati kekenyangan minum air. Kejadian itu disaksikan oleh Dapa. Dapa merasa puas bisa membalas dendamnya. Kini Dapa dapat hidup bebas lagi tanpa ada yang menggangu.
Kode Iklan Bawah Artikel